Assalamu'alaikum Warahmatullohi Wabarakaatuh,
PERAN DAN FUNGSI MASJID
Selasa, 15 Januari 2013 15:14
Ditulis oleh Ponijo,S.Ag, M.Pd.I
- SEKILAS Pengurus Atau Ta'mir Masjid,
Pendahuluan Takmir Masjid adalah sekumpulan orang yang mempunyai kwajiban memakmurkan masjid. Takmir masjid sebenarnya telah bermakna kepengurusan masjid, namun tidak salah bila kita menyebut “Pengurus Takmir Masjid”. Firman Allah : “Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid Allah ialahorang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Karena itu semoga mereka termasuk orang-orang yang mendapat hidayah“. (QS. At-Taubah : 18). Berikut kami sampaikan beberapa hal yang dapat dijadikan bahan renungan para Takmir di dalam melaksanakan tugas ketakmirannya. Masjid Sebagai Tempat Ibadah Sebagai tempat ibadah umat Islam, bangunan masjid haruslah memungkinkan seorang melaksanakan ibadah (mahdhoh) dengan tenang. Sarana yang menunjang kearah itu haruslah diwujudkan sedemikian rupa. Memang pada awalnya sebuah masjid hanyalah suatu tempat yang dinyatakan sebagai tempat ibadah. Dengan itu maka berfungsilah masjid dengan segala konsekuensinya. Sebagai tempat ibadah, maka masjid harus memberi nuansa kekhusukan disamping kesucian dan kebersihan lingkungan merupakan sesuatu yang mutlak harus diupayakan. Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat Mengacu pada prinsip ajaran Islam tentang keterpaduan anatara ibadah mahdhoh dengan ibadah sosial (ijtimaiyah), maka masjid haruslah memancarkan cahaya yang menyinari lingkungan dan jamaahnya.
Dari aktifitas spiritual yang dilakukan di dalam masjid, para jamaah haruslah mampu membawa substansi ajaran (Islam) keluar melewati batas dinding masjid dan memasuki wilayah-wilayah kemasyarakatan. Oleh karena itu setiap kegiatan yang dilakukan di dalam masjid haruslah berimplikasi kemanfaatan dalam kehidupan masyarakat. Bahkan setiap persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, kalau mungkin dapat diselesaikan berdasarkan nilai-nilai yang berkembang di dalam masjid. Organisasi Takmir Masjid Upaya memakmurkan masjid dapat dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang. Organisasi Takmir masjid dapat dibuat untuk usaha-usaha tersebut di atas.Struktur organisasinya paling tidak terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara serta Bagian-bagian yang diperlukan.
Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi : Idaroh atau kegiatan administrasi, Imaroh atau kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada pembinaan jamaah serta Ri’ayah, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan pisik (sarana dan prasarana). Menuju Kebersihan Iman (Pengurus) Takmir Masjid sebagai penanggung jawab kegiatan masjid harus berusaha mengarahkan jamaahnya mencapai kebersihan iman (tauhid), yakni kemantapan akidah jamaah di dalam meyakini Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabinya. Sebagaimana dijelaskan didalam sebuah ayat bahwa “Orang-orang rang-orang yang beriman dan tidak mencampur-aduk keimanannya dengan kemusyrikan mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan ketenteraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” Menjaga Kerukunan dan Memperbanyak Amal Sholeh Takmir masjid disamping mengarahkan jamaahnya agar memiliki akidah yang kuat, juga berkwajiban mendorong jamaahnya agar senantiasa menjaga kerukunan diantara warga masyarakat. Prinsip mengakui adanya perbedaan faham dan menghargai pemikiran dan pemahaman antara yang satu dengan yang lain haruslah tetap dijunjung tinggi.
Suasana kerukunan haruslah diciptakan sedemikian rupa sehingga masalah-masalah perbedaan faham tidak harus menjadi hambatan di dalam kehidupan bersama. Meskipun kadang tidak dapat memuaskan bagi semua pihak, namun upaya yang baik dilakukan adalah menjadikan dialog atau musyawarah sebagai jalan untuk mengambil keputusan-keputusan. Iklim keterbukaan dan saling mengerti diantara jamaah akan membuahkan kemajuan-kemajuan di tengah-tengah masyarakat. Hidup rukun adalah salah satu bentuk amal sholeh, disamping masih sangat banyak lagi amal-amal kebaikan yang dapat dilakukan. Jangan lupa lakukan kreatifitas amal kebaikan itu dengan mendasarkan keimanan kepada Allah dan tidak mengharapkan yang lain kecuali ridlo-Nya semata. Pada sisi ini banyak sekali kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan.
Allah berfirman ; “Berlomba-lombalah kamu dalam hal kebaikan !” Fungsi dan Peran Takmir Keberadaan Takmir masjid akan sangat menentukan di dalam membawa jamaahnya kepada kehidupan yang lebih baik. Berfungsinya masjid sebagai tempat ibadah dan pusat pembinaan ummat sangat ditentukan oleh kreatifitas dan keihlasan takmir masjid dalam memenuhi amanahnya. Siapapun yang telah dipercaya memegang amanah ini haruslah berani mempertanggung-jawabkan seluruh hasil karyanya, baik dihadapan Allah maupun dihadapan jamaahnya sendiri. Kemajuan masyarakat karena keimannnya yang mantap disertai amal sholeh (karya positif yang dihasilkan) akan banyak dipengaruhi oleh kreatifitas takmir masjid dalam mengelola kegiatan sebagaimana telah tersebut di atas.
Oleh karena itu tanggung jawab takmir masjid di sini dapat dikatakan amat berat namun sangatlah mulia. Takmir masjid harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, menjauhi sifat-sifat takabur dan riya’. Tidak pernah membaggakan diri dan besar kepala karena aktifitas dan kegiatannya yang semarak. Takmir masjid harus rela berkorban demi kemaslahatan jamaahnya. Apabila takmir masjid dapat berhasil di dalam pengelolaan masjidnya, maka insya Allah, balasan Allah akan segera dijumpai.. Penutup Demikian, beberapa pokok pikiran singkat saya tentang peran dan fungsi takmir masjid. Harapan saya semoga uraian ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Banyak salah dan khilaf saya mohon koreksi dan maaf beribu maaf. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua, dan berkenan meridloi segala amal usaha kita. Amiin. Bantul, 14 Januari 2013.
Semoga Manfaat dan TerInspirasi untuk dan kepada Ta'mir Masjid
sumber yg budiman
Sumber-Sumber Para Budiman
By Dr. H. R. Taufiqurrochman, MA on 15 March 2011
Ketika saya berwawancara dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo dalam rangka menulis biografi beliau yang -alhamdulillah- kini telah terbit dengan judul "Imam al-Jami'ah", beliau menyatakan, "Sesungguhnya jabatan tertinggi itu bukan rektor atau presiden, tapi takmir masjid". Saya pun tertarik dengan statemen ini. "Mengapa demikian Prof?", tanya saya keheranan.
Dengan gaya bahasa balik bertanya, Pak Imam berkata: "Adakah yang lebih mulia dari pekerjaan takmir masjid yang setiap hari membukakan pintu masjid, lalu mengumandangkan adzan dan iqamah, menyeru kita untuk shalat dan menggapai al-falaah atau kesuksesan hidup? Sungguh mulia orang yang memakmurkan masjid sembari mengajak dan memudahkan orang lain bersujud kepada Allah".
Sepulang dari interview, saya terus berpikir hingga sampai pada kesimpulan bahwa konklusi dan statement Prof. Imam memang benar adanya. Jabatan apapun memang bisa dijadikan sarana ibadah dan dakwah, tapi untuk merealisasikannya tidak mudah. Setiap jabatan, apalagi yang disertai bayaran, tunjangan, aneka fasilitas, apalagi ketika meraihnya masih perlu trik politik dan berbagai persoalan lainnya, maka jelas sekali jabatan selain takmir masjid amat sulit dijadikan sebagai sarana untuk ibadah dan dakwah.
Berbeda dengan takmir masjid yang pada umumnya tanpa disertai tunjangan alias gratis, maka dengan segala jerih payah dan pengabdiannya untuk melayani para hamba Allah yang hendak bersujud, jelas pekerjaan itu amat mulia. Bahkan, andaikan takmir itu pun diapresiasi dengan gaji, misalnya, aktivitas memakmirkan masjid itu masih tetap unggul. Mengingat, masjid merupakan baitullah atau rumah Allah. Segala hal yang dinisbatkan kepada Allah, pasti lebih unggul daripada yang lainnya.
Hal yang perlu dipahami adalah bahwa istilah "Takmir Masjid" tidak hanya sebatas pada ketua, bendahara, sekretaris, koordinator seksi-seksi dan semua jabatan yang biasanya terstruktur dalam organisasi ketakmiran. Akan tetapi, secara luas, kata "Takmir Masjid" adalah sebuah predikat yang berarti "memakmurkan, meramaikan, memuliakan dan melayani segala hal yang terkait dengan kemasjidan". Artinya bahwa semua orang meski bukan termasuk pengurus masjid, tapi ia tetap melayani keperluan ibadah di masjid, maka ia pun disebut "Takmir Masjid".
Oleh karena itu, siapa saja bisa menjadi takmir, dan bahkan seharusnya setiap muslim melekatkan pada dirinya bahwa dialah takmir masjid yang harus memakmurkan baitullah dengan segala daya dan upaya. Meski secara struktural, namanya tidak tercantum, tapi kewajiban untuk mengagungkan masjid adalah kewajiban personal dan tanggung jawab setiap muslim. Para pengurus masjid hanyalah orang-orang tertentu yang ditunjuk atau diberi amanah lebih untuk memanajemen urusan teknis kemasjidan. Sedangkan secara luas, segala keperluan masjid dan apapun yang berkaitan untuk kemaslahatannya adalah tanggung jawab bersama.
Ada banyak hal yang berhubungan dengan aktivitas ketakmiran. Misalnya, menjadi imam shalat rawatib, membuka pintu masjid, menjaga kebersihan masjid, mengupayakan penggalangan dana, mewaqafkan tanah untuk masjid, menyisihkan sebagian harta untuk kebutuhan masjid, menjadi muadzin atau bilal, menjaga keamanan dan ketertiban, mengikuti pengajian dan segala aktivitas ibadah yang diselenggarakan di masjid, ikut andil sebagai remaja masjid, dan banyak lagi aktivitas lain yang terkait dengan masjid.
Banyaknya aktivitas itu merupakan peluang bagi siapa saja untuk menjadi takmir masjid. Setiap orang, dengan skill dan kemampuannya sendiri, bisa memposisikan diri sebagai takmir dengan menyumbangkan apa yang ia bisa dan apa yang ia punya untuk memakmurkan rumah Allah. Karena begitu banyaknya aktivitas kemasjidan dan melibatkan banyak orang atau jamaah, maka diperlukan pengurus atau orang-orang tertentu yang dipilih untuk mengorganisasir sehingga ada ketua takmir, wakil takmir, bendahara, dan seterusnya.
Namun, bukan berarti hanya para pengurus itu saja yang berkewajiban terhadap urusan ketakmiran. Semua orang harus merasa memiliki masjid dan bersemangat memberikan karya terbaiknya untuk kemaslahatan tempat ibadah yang suci itu.
Ketika suatu hari ada seseorang sedang mengangkat sebuah balok kayu untuk pembangunan masjid dan dia melakukannya sendirian, tiba-tiba Khalifah Ali bin Abu Thalib yang kebetulan lewat dan melihat peristiwa itu, beliau segera menghampiri orang tersebut. "Mengapa kamu akan masuk surga sendirian? Bantulah saudara-saudaramu yang lain dan ajaklah mereka bekerja sama memakmurkan masjid ini", kata S. Ali.
Peristiwa ini menunjukkan betapa banyak peluang untuk masuk surga dalam berkhidmat untuk masjid sehingga sangat tidak bijak jika dilakukan sendirian. Sebaliknya, betapa teganya kita membiarkan hanya segelintir orang saja yang berkhidmat untuk masjid tanpa kita bersedia membantu mereka, padahal kita mampu. Ketika kita acuh tak acuh dan tidak mau bekerja sama dalam berkhidmat untuk masjid, maka sama saja kita telah berlepas diri dari kumpulan orang-orang yang kelak dibahagiakan Allah di surga.
Lebih lanjut lagi, Rasululullah saw menjanjikan terhadap orang yang hatinya selalu terikat dengan masjid, benaknya tak luput untuk terus memikirkan kemaslahatan masjid meski harus menghadapi tantangan dari sana-sini, maka orang seperti itu dijanjikan akan memperoleh naungan atau perlindungan Allah di hari kiamat kelak. Hari yang tak satu pun ada naungan perlindungan melainkan dari Allah swt.
Singkat kata, melihat kemuliaan dan balasan dari Allah berupa surga dan kebahagiaan abadi di akhirat kelak, maka jabatan takmir masjid seharusnya diperebutkan secara personal. Artinya, setiap orang di dalam dirinya harus memposisikan diri sebagai takmir atau person yang akan selalu setia memakmurkan masjid Allah secara tulus. Dan, al-Quran memberi tanda-tanda tentang siapa takmir masjid itu? Yaitu, orang yang beriman kepada Allah dan tidak takut kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah.
Janji Rasulullah ini pasti benar dan pernyataan S. Ali juga benar. Kini, semua kembali kepada setiap pribadi seorang muslim. Apakah dia bersedia menjabat dan menjadi takmir untuk meraih kebahagiaan di akhirat ataukah tidak? Bagi orang yang memiliki visi dan misi ke depan (akhirat), jelas tugas dan posisi takmir untuk memakmurkan masjid Allah, tidak akan disia-siakannya.
Semoga Bermanfaat.
Semoga Bermanfaat.


TOB
BalasHapus